Archive for November, 2009

KAMUS BERGAMBAR BAHASA INGGRIS UNTUK ANAK-ANAK

Friday, November 6th, 2009

Kode 0904011

Perkembangan teknologi komputer di masa sekarang terus meningkat. Komputer tidak hanya digunakan untuk mengolah data saja tetapi dapat juga untuk menjalankan dan merancang berbagai aplikasi, seperti game, perangkat ajar, pemutar audio, kamus digital, dan sebagainya. Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting. Setiap negara memiliki bahasa yang berbeda-beda. Agar antar negara dapat berkomunikasi dengan baik, maka ditetapkanlah bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa internasional.

Bahasa Inggris merupakan bahasa universal, yang artinya siapa saja bisa mempelajarinya tanpa ada larangan dari pihak manapun. Banyak sekali sekolah-sekolah dan bimbingan-bimbingan belajar yang menyediakan pembelajaran bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang diajarkan pun dimulai untuk anak-anak hingga dewasa. Bahkan anak-anak yang masih duduk di bangku TK pun telah mulai diajarkan bahasa Inggris. Bagi anak-anak sekecil itu tentu sulit untuk menghafalkan kata-kata karena mereka lebih mudah mengingat bentuk atau gambar. Terkadang anak-anak hanya mengetahui pengucapannya tanpa mengetahui seperti apa bentuknya karena kebanyakan yang diajarkan di sekolah hanya berdasarkan teks. Jadi anak-anak hanya berkhayal tentang bentuknya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka penulis berinisiatif untuk membuat kamus digital bergambar yang memiliki tampilan menarik supaya anak-anak mempunyai minat untuk belajar karena gambar akan lebih cepat merangsang otaknya. Salah satu program aplikasi yang dapat membantu perancangan kamus bergambar ini adalah Macromedia Flash 8. Dengan Macromedia Flash 8 dapat dibuat suatu kamus bergambar untuk pembelajaran yang lebih praktis sehingga mudah untuk dipahami dan dipelajari.

Incoming search terms for the article:

Upaya Pencegahan Kebakaran Lahan Oleh Kelompok Tani Desa Rasau Jaya Umum Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya

Friday, November 6th, 2009

Kode 0904010

Kebakaran lahan dan hutan di Indonesia, terjadi setiap tahun walaupun frekuensi, intensitas dan luas arealnya berbeda. Kebakaran paling besar terjadi pada tahun 1997/1998 dan pertama kali dinyatakan sebagai bencana nasional. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebakaran lahan dan hutan cukup besar mencakup kerusakan ekologis, menurunnya keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah, perubahan iklim mikro dan global, asapnya menganggu kesehatan masyarakat, serta menganggu transportasi darat, sungai, laut dan udara. Hal ini sangat jelas menganggu aktivitas sosial ekonomi masyarakat, bangsa dan negara. Khusus untuk Kalimantan Barat saja, kerugian yang diderita akibat kebakaran lahan dan hutan dengan luas hutan terbakar mencapai 34 ribu ha dan lahan/kebun hampir 20 ribu ha, diprediksi lebih dari Rp.142 miliar ( Subarjo, dkk, 2006).

Kebakaran lahan dan hutan yang melanda Indonesia termasuk Kalimantan Barat sejak tahun 1997 sampai sekarang merupakan bencana besar bagi lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat. Namun demikian, tak seorangpun benar–benar memahami penyebab yang mendasari terjadinya kebakaran tersebut. Dinas Kehutanan Kalimantan Barat, misalnya menyalahkan para peladang berpindah sebagai penyebab kebakaran di Kalimantan Barat. Dipihak lain, para pecinta lingkungan hidup menyebutkan bahwa kebakaran–kebakaran yang terjadi merupakan akibat pengelolaan hutan dan lahan yang buruk. Kemudian pemerintah menyalahkan masyarakat terutama petani atas kebakaran yang terjadi, organisasi–organisasi lingkungan hidup menyalahkan perusahaan–perusahaan kayu dan perkebunan.

Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat melaporkan pada tahun 2000, 20 % dari total penduduk kota Pontianak terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pada bulan Juli hingga September 2002 telah tercatat 23.244 orang yang menderita ISPA akibat dampak kabut asap (Subarjo, dkk, 2006).

Kebakaran lahan dan hutan telah menempatkan Indonesia sebagai negara terbesar ke-3 dalam menyumbangkan emisi gas Carbon Dioksida (CO2) setelah Amerika Serikat dan China. Sementara menurut Protokol Kyoto, CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca selain, CH4 (Metana) dan N2O yang menjadi penyumbang terbesar bagi pemanasan global.

Incoming search terms for the article:

PENERAPAN MANAJEMEN PEMASARAN PRAKTEK DOKTER GIGI DALAM MENGHADAPI ERA GLOBALISASI

Friday, November 6th, 2009

Kode 0904009

Globalisasi merupakan perubahan jaman yang terus berlangsung dan dapat dianggap sebagai salah satu alasan bahwa manusia harus berubah. Dalam era globalisasi yang sedang berlangsung di dunia ini, terutama dengan adanya perdagangan bebas kawasan Asean (Asean Free Trade Area) yang dimulai tahun 2003 akan meningkatkan persaingan dibidang jasa pelayanan kesehatan (Usri dan Moeis, 1996). Dalam era globalisasi juga akan terjadi perkembangan di berbagai bidang yang mempengaruhi berbagai peningkatan kebutuhan masyarakat, baik peningkatan kualitas maupun kuantitas sarana pelayanan kesehatan gigi maupun sumber daya manusia yang mempunyai pandangan maju. Dengan adanya era globalisasi ini, dapat memungkinkan masuknya pelayanan kesehatan gigi dari luar negeri ke Indonesia secara bebas sehingga dapat terbentuk persaingan lahan praktek.

Di sisi lain, dokter gigi perlu mengantisipasi secara tepat adanya perubahan tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang semakin sadar hukum dan haknya terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini tercermin dalam UU no.8/1999 tentang perlindungan konsumen. Hal ini mendorong adanya pengawasan dan pengendalian mutu secara keprofesian. Dokter gigi harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran (dihitung dalam unit Satuan Kredit Profesi) dan mampu menerapkannya secara etis dan benar. Untuk itu telah lahir perangkat-perangkat pengendalian mutu dokter gigi melalui ketentuan registerasi dan lisensi oleh Konsil Kedokteran Gigi Indonesia dan diberlakukan standar-standar keprofesian oleh Persatuan Dokter Gigi Indonesia (Matram, 2001).

Dalam menjalankan tugas keprofesiannya, dokter gigi disaat ini dan dimasa mendatang berada dalam situasi yang kompetitif. Untuk mengantisipasi persaingan di atas, dokter gigi juga perlu merancang dan membentuk suatu strategi serta program pemasaran yang baik.

Incoming search terms for the article: