Archive for March, 2009

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA HASIL CURIAN DI KOTA PONTIANAK

Thursday, March 12th, 2009

Kode 0811057

Pencurian kendaraan bermotor semakin marak di Kota Pontianak,berbagai macam modus operandi yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor pada saat ini. Kalau hal ini tidak dapat diatasi tentu perbuatan tersebut sangat meresahkan masyarakat.

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab semakin maraknya terjadi tindak pidana pencurian kendaraan bermotor adalah diantaranya semakin marak juga tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil curian tersebut. Sehingga para pelaku curanmor tidak merasa kesulitan untuk memasarkan kendaraan bermotor hasil curiannya.

Selain itu juga semakin maraknya penjualan bagian-bagian (onderdil) kendaraan bermotor bekas oleh para pedagang kaki lima, yang tidak menutup kemungkinan onderdil kendaraan tersebut didapatkan oleh pedagang dari para pelaku curanmor, untuk itu perlu dilakukan penyelidikan terhadap para pedagang kaki lima yang memperdagangkan onderdil kendaraan bermotor bekas tersebut.

Namun hingga kini para pedagang kaki lima yang memperdagangkan onderdil kendaraan tidak pernah dilakukan pemeriksaan oleh aparat Kepolisian, sehingga memungkinkan tindak penadahan terus berlangsung dan aparat juga belum pernah mengadakan koordinasi dengan aparat pemda Kota Pontianak untuk melakukan penertiban para pedagang kaki lima yang memperdagangkan onderdil kendaraan bermotor.

Incoming search terms for the article:

EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PADA MATERI RUANG DIMENSI TIGA DI KELAS X SMA NEGERI 11 BANDA ACEH

Wednesday, March 11th, 2009

Tahun 2008
Kode 0811056

Sebagaimana tercantum dalam kurikulum matematika sekolah bahwa tujuan diberikannya matematika antara lain agar siswa mampu menghadapi perubahan keadaan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat , jujur dan efektif. Hal ini jelas merupakan tuntutan yang sangat tinggi yang tidak mungkin di capai hanya melalui hapalan, latihan pengerjaan soal yang bersifat rutin , serta proses pengerjaan soal yang biasa.

Untuk menjawab tuntutan tujuan yang demikian tinggi , maka perlu dikembangkan materi serta proses pembelajarannya yang sesuai. Berdasarkan teori belajar yang dikemukakan Gagne (1970), bahwa ”keterampilan intelektual tingkat tinggi dapat dilakukan melalui pemecahan masalah”. Hal ini dapat difahami sebab pemecahan masalah merupakan tipe belajar paling tinggi dari delapan tipe yang dikemukakan Gagne, yaitu: signal learning , stimulus-respon learning , chaining, verbal assosiation, diskrimination  learning ,concep learning  , rule learning  , dan problem solving. Selain itu Suryadi dkk. (1999) dalam surveynya tentang Current situation on matematics and science education in Bandung”, antara lain menemukan bahwapemecahan masalah matematika merupakan salah satu kegiatan matematik yang dianggap penting baik oleh para guru maupun siswa di semua tingkatan mulai dari Sekolah Dasar samapi SMA.

Sehubungan dengan pemecahan masalah (Problem Solving) , National Council of Teachers of Mathematics (NCTM,2000) Menyatakan bahwa pembelajaran matematika sekolah harus mengupayakan agar siswa dapat (1) membangun pengetahuan metematika melalui pemecahan masalah, (2) memecahkan masalah yang muncul dalam konteks  matematika dan konteks yang lain, jadi pembelajaran matematika di sekolah perlu mengupayakan agar siswa mempunyai kemampuan memecahkan masalah dan menjadi pemecah masalah yang baik.

Abidin (1989:5) menyatakan bahwa pemecahan masalah dapat membentuk sikap positif pada diri siswa untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dalam situasi tertentu. Menurut NCTM (2000:335), Pemecahan masalah mempunyai dua fungsi dalam pembelajaran matematika. Pertama, Pemecahan masalah adalah alat penting mempelajari matematika. Banyak konsep matematika yang dapat dikenalkan secara efektif kepada siswa melalui pemecahan masalah. Kedua, pemecahan masalah dapat membekali siswa dengan pengetahuan dan alat sehinggga siswa dapat memformulasikan, mendekati, dan menyelesaikan masalah sesuai dengan yang telah mereka pelajari di sekolah.

Incoming search terms for the article:

ALAT PENDETEKSI POLUSI UDARA DARI GAS KARBONMONOKSIDA (CO)

Wednesday, March 11th, 2009

Tahun 2007
Kode 0811055

Dewasa ini udara yang dihirup manusia semakin tidak besahabat, banyak polusi udara terjadi di mana-mana yang disebabkan oleh banyak hal antara lain : asap kendaraan, asap pabrik, pembakaran sampah dan sebagainya. Asap kendaraan merupakan penyebab terbesar terjadinya polusi udara. Hasil pembakaran pada kendaraan menghasilkan gas buang yang mengandung banyak gas beracun dengan komposisi sebagai berikut 78,32% (SO2), 29,18% (NO2), 62,62 %(HC), dan 85,78 % (CO), serta debu 6,9%. Berdasarkan data studi kualitas udara di Jakarta 1997 menunjukkan polusi sangat besar. Selama satu tahun mengeluarkan CO 120.002 ton, HC 38.302 ton, NO2 971 ton, SO2 101 ton, dan PM 101 ton. Kendaraan penumpang mengeluarkan 197055, 26492, 29382, 1433, dan 2134 ton per tahun. ( Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah / BPLHD – DKI Jakarta ).

Dalam seminar internasional The Utilization of Catalytic Converter and Unleaded Gasolinne for Vehicle terungkap bahwa 70 persen gas beracun yang ada di udara, terutama di kota besar, berasal dari kendaraan bermotor. Lebih dari 20 persen kendaraan di Jakarta diperkirakan melepas gas beracun melebihi ambang batas yang dinyatakan aman. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor akan membawa risiko pada penambahan gas beracun di udara terutama CO, HC, SO2.

Di kota Jogjakarta peluang meningkatnya polusi udara juga semakin besar. Menurut Cholis Aunurrohman banjirnya kendaraan bermotor di Yogyakarta kini sudah pada taraf sangat mengkhawatirkan. Jumlah kendaraan bermotor di DIY tahun 2003 mencapai 560.947 unit, belum termasuk bus dan truk. Dengan penyebaran mobil 88.463 unit, sepeda motor 472.484 unit. Hanya dalam waktu 12 bulan jumlahnya meningkat hingga 639.056 unit. Dari jumlah tersebut kendaraan bermotor yang beroperasi di kota Jogjakarta mencapai 260.000 unit. Dengan penyebaran mobil 14 %, sepeda motor 80 % serta bus dan truk 6 %. (SKH Kedaulatan Rakyat edisi Senin,24 April 2006)

Incoming search terms for the article: