“Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil Menengah (Studi Kasus pada Debitur Perusahaan Daerah Badan Kredit Kecamatan Serengan Kota Surakarta)”

Kode 0812059

Perekonomian Indonesia sejak mengalami krisis ekonomi pada tahun 1997 – 1998 terus mengalami pemulihan. Indikator makro menunjukkan sinyal positif terhadap kontribusi keberlangsungan ekonomi ke depan. Pertumbuhan ekonomi ketika krisis sempat mencapai angka terendah (-13,1%) namun sejak tahun 2000 mampu mencapai angka pertumbuhan ekonomi 4,9% sedangkan pada tahun 2005 dan 2006 mencapai angka masing – masing 5,6% dan 5,9%. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berangsur stabil serta menguat dari kisaran angka di atas Rp. 10.000,- per dolar AS menjadi kisaran sedikit di atas Rp. 9.000,- per dolar AS.

Tingkat suku bunga (Sertifikat Bank Indonesia/SBI) juga mengalami penurunan dari kisaran 68 persen ketika krisis ekonomi, tetapi sejak tahun 2002 SBI berkisar 15 persen bahkan tahun 2007 mencapai dibawah kisaran 10 persen. Kondisi ini membuka peluang bagi sektor industri melakukan ekspansi usaha di berbagai sektor. Tingkat inflasi barang dan jasa mulai terkendali yakni dari sekitar 15 persen dalam periode krisis, beberapa tahun belakang ini sudah turun di bawah 10% (kecuali tahun 2005) terjadi peningkatan angka inflasi mendekati angka psikologis 10 persen. Transaksi berjalan dalam 3 tahun terakhir mengalami surplus  sebesar 3.108 juta US $ tahun 2004 dan sebesar 1.500 juta US $ (angka sementara ) pada tahun 2006. Demikian pula neraca perdagangan surplus dalam periode 2004 – 2006 menunjukkan angka sekisar 20 milyar US $.

Dalam kurun waktu terjadinya krisis yang melanda perekonomian Indonesia, yang berdampak luas pada berbagai sektor yang meliputi politik, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Dalam hal ini sosial ekonomi, permasalahan meliputi rendahnya kualitas sistem pendidikan dengan peringkat 12 dari 12 negara ASIA (PERC,2001); Kualitas SDM rendah dengan peringkat 109 dari 174 negara (UNDP, 2000); kemiskinan berjumlah 39,05 juta (17.75%) dengan standart kemiskinan Rp.152.847/kapita/bulan (BPS,2006); 27,3% (4,9 juta) balita di Indonesia kekurangan gizi (Susenas,2003); kenaikan BBM hingga 95% menambah jumlah orang miskin sebanyak 40% (INDEF, 2005) kenaikan 35% akan menambah jumlah orang miskin sebanyak 20% (BPS,2005).

This entry was posted in Skripsi and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply