Archive for December, 2008

“STUDI TENTANG REINKARNASI MENURUT PANDANGAN HINDU DAN BUDDHA”.

Monday, December 22nd, 2008

Kode 0805016

Manusia diciptakan oleh Tuhan adalah untuk menjadi penguasa bumi, oleh sebab itu manusia merupakan makhluk yang paling mulia dibandingkan makhluk-makhluk lain. Dalam pandangan Hindu dan Buddha manusia mempunyai prinsip dasar yaitu mempunyai susila atau perilaku. Sebab dengan perilaku tersebut manusia dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta, dengan sesama manusia atau bahkan dengan lingkungan sekitarnya. Di dunia manusia memiliki kewajiban, yakni berbakti kepada Sang Pencipta. Dalam menjalankan bakti ini terdapat beberapa macam cara baik melalui materi maupun melalui praktek langsung. Jika manusia berhasil menjalankan bakti itu, maka akan mencapai tingkat kelepasan terbebas dari ikatan dosa.

Kelepasan ini merupakan tingkatan atau tujuan terakhir dalam kehidupan manusia. Dalam tingkatan Hindu disebut Moksa dan dalam tingkatan Buddha disebut dengan Nirwana. Kelepasan merupakan suatu keberhasilan manusia karena telah menghilangkan adanya hawa nafsu atau tanha keduniawian. Dalam mencapai kelepasan ini manusia harus melalui beberapa tahap yang tidak mudah untuk dilalui, sebab dalam Hindu harus menjalani yoga sedangkan dalam Buddha harus melalui 8 susila dan melakukan samadhi. Pencapaian kelepasan ini dapat dilakukan melalui dua tahap, yakni: Pertama, dicapai pada saat manusia itu telah meninggal dunia dan Kedua, dicapai pada saat masih hidup. Konsep kelepasan ini dapat dirasakan oleh manusia dengan adanya ketentraman bathin bila masih hidup dan bahkan ada yang bersatu dengan Sang Pencipta setelah mengalami kematian dan tidak terlahir kembali. Manusia yang telah mengalami kelepasan ini akan terbebas dari lingkaran reinkarnasi atau kelahiran kembali.

Apabila manusia tidak mengalami kelepasan, maka akan mengalami suatu kelahiran kembali atau reinkarnasi. Proses reinkarnasi ini terjadi akibat adanya suatu perbuatan yang menyimpang atau buruk dilakukan oleh manusia dalam kehidupan yang dahulu. Jadi manusia tersebut mengalami proses kelahiran kembali guna memperbaiki kesalahan atau perbuatan yang diperbuat pada kehidupan sebelumnya. Reinkarnasi ini bergantung pada perbuatan manusia atau karmaphala. Apabila karma manusia pada kehidupan sebelumnya baik, maka pada kehidupan selanjutnya akan terlahir sebagai manusia yang berguna atau dewa. Tetapi apabila dalam kehidupan sebelumnya banyak melakukan dosa, maka pada kehidupan selanjutnya akan terlahir sebagai manusia hina, atau bahkan menjadi hewan dan jin. Yang mengalami kelahiran kembali dalam ajaran Hindu adalah roh perseorangan (atman), roh ini akan terus berpindah dari kehidupan yang satu ke yang lain sampai mencapai Moksa. Sedangkan dalam ajaran Buddha yang terlahir kembali adalah pribadi atau watak dari manusia yang disebut sebagai nama, sebab Buddha tidak mempercayai adanya roh (anatman), unsur nama ini adalah unsur yang menentukan manusia terlahir kembali dalam keadaan buruk atau baik.

Incoming search terms for the article:

Pengaruh Diklat dan MGMP Terhadap Peningkatan Profesionalisme Guru SMK Di Kecamatan Nganjuk

Monday, December 22nd, 2008

Tahun 2004
Kode 0805015

Pembaharuan sistem pendidikan nasional dilakukan untuk memperbarui visi, misi dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memperdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkwalitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan jaman yang selalu berubah.

Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik  pada pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No : 20 Tahun 2003).

Sehubungan dengan hal tersebut pengembangan sumber daya manusia merupakan sesuatu yang penting mendapat perhatian karena untuk mencapai terwujudnya masyarakat maju, adil, makmur dan mandiri berdasarkan Pancasila, perlu adanya sumber daya manusia yang berkualitas, oleh karena itu aparatur pemerintah sebagai subyek atau pelaksana pembangunan khususnya guru-guru sangat dibutuhkan sumber daya manusia yang handal dan profesional dibidang tugasnya, seperti yang dikemukakan Said Zainal Abidin (dalam Ginanjar et, al, 1995, 97) bahwa “Pembangunan tanpa pengembangan kemampuan sumber daya manusia tidak dianggap sebagai pembangunan, sebab itu keberhasilan suatu pembangunan pada dirinya pertama-tama diukur pada keberhasilan meningkatkan kemampuan manusia”.

Incoming search terms for the article:

PENGARUH GAYA KERJA MANAJERIAL, KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN MOTIVASI TERHADAP PRESTASI KERJA GURU SMA NEGERI SURAKARTA

Monday, December 22nd, 2008

Tahun 2006
Kode 0805014

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya kerja manajerial, komunikasi interpersonal dan motivasi secara sendiri-sendiri dan bersama-sama terhadap prestasi kerja guru SMA  Negeri Surakarta.

Penelitian ini menggunakan metode survei dengan membagikan kuesioner kepada guru-guru SMA Negeri Surakarta. Responden penelitian dipilih secara proporsional random sampling  terhadap guru-guru SMA Negeri Surakarta  yang banyak anggota populasinya 654 orang. Sampel diambil secara random sebanyak 65 responden. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah program SPSS Versi 12.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis diterima , yang berarti bahwa terdapat pengaruh yang positif antara gaya kerja manajerial terhadap prestasi kerja guru dengan koefisien sebesar 0,275 dan signifikansi sebesar 0.011; pengaruh komunikasi interpersonal terhadap prestasi kerja guru dengan koefisien sebesar 0,409 dan signifikansi sebesar 0,000 dan pengaruh motivasi terhadap prestasi kerja guru dengan koefisien sebesar 0,266 dan signifikansi sebesar 0,062. Gaya kerja manajerial, komunikasi interpersonal dan motivasi secara bersama-sama berpengaruh terhadap prestasi kerja guru. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa komunikasi interpersonal paling dominan yang mempengaruhi prestasi kerja guru. Dengan demikian komunikasi interpersonal perlu mendapat perhatian secara khusus.

Incoming search terms for the article: