Tahun 2008
Kode 0805005
Secara umum berkomunikasi dengan berbicara dianggap menjadi ciri khas manusia sebagai makhluk sosial. Manusia membutuhkan komunikasi satu sama lain untuk dapat saling berinteraksi dan dapat saling mengerti maksud dan keinginan orang lain. Komunikasi secara normal biasa dilakukan manusia dengan mengucapkan kata-kata melalui mulut dengan bahasa yang dapat dimengerti dan mendengarkan orang lain berbicara melalui telinga.
Pada manusia yang mempunyai ketidaksempurnaan pada panca indera, tentu berkomunikasi secara normal akan sulit dilakukan, terutama pada kaum tunarungu yang tidak dapat menggunakan indera pendengarnya secara penuh, akan sulit mengembangkan kemampuan berbicara, sehingga hal itu akan menghambat perkembangan kepribadian, kecerdasan, dan penampilan sebagai makhluk sosial. Tidak mengherankan apabila di dalam dunia pendidikan anak tunarungu, pendekatan diprioritaskan kepada pengembangan kemampuan berbicara dengan orang lain sehingga penguasaan bahasa lisan dan kemampuan berbicara lebih diutamakan. Kemudian berkembanglah metode oral, yaitu metode percakapan dengan membaca gerak bibir dan memanfaatkan sisa pendengaran yang ada.
Metode oral memberikan hasil yang masih jauh dari yang diharapkan khususnya di Indonesia, karena kurang terpenuhi persyaratan metode oral, baik dari segi guru maupun sarana penunjang. Seiring perkembangan jaman, muncul pandangan yang menampilkan pendekatan baru, yaitu memanfaatkan segala media komunikasi dalam pengajaran anak tunarungu. Disamping menggunakaan media yang sudah lazim, pendekatan ini mengunakan pula isyarat alamiah, abjad jari, dan isyarat yang dibakukan. Pendekatan ini dikenal dengan nama komunikasi total (Komtal). Komtal merupakan konsep yang bertujuan mencapai komunikasi yang efektif antara sesama tunarungu ataupun kaum tunarungu dengan masyarakat luas dengan menggunakan media berbicara seperti membaca bibir, mendengar, dan berisyarat secara terpadu.
