ORANG BATAK TOBA DAN PROSES MEMBANGUN TUGU LELUHUR SEBAGAI UPAYA DALAM MEMPERKUAT KEBATAKAN (Studi Kasus pada Marga Simanjuntak Keturunan Sobosihon Br. Sihotang)

Tahun 2008
Kode 0810022

Suku bangsa di Indonesia jumlahnya lebih dari 740. masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri. Batik itu dari segi bahasa, sistem religi atau kepercayaan maupun dalam menjalani siklus hidupnya yakni upacara kelahiran, upacara perkawinan juga upacara kematian. Kebudayaan  suatu suku bangsa tersebut tidak statis dan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hal ini  sejalan dengan berkembangnya unsur teknologi maupun sistem pengetahuan mahluk manusia hingga era globalisasi  saat ini. Dampak globalisasi tidak hanya terasa di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Medan, melainkan menyebar ke seluruh pelosok tanah air, bahkan sampai ke desa-desa terpencil sekalipun.

Suku bangsa Batak Toba merupakan salah satu suku bangsa yang terdapat di Indonesia ini. Orang Batak Toba dikenal dengan orang-orang yang masih mempertahankan adat-istiadat nya hingga saat ini, meskipun mereka merantau ke luar dari huta (kampung) ke kota-kota besar. Hanya saja adat-istiadat Batak Toba itu ketika berada di luar dari kampung dengan sendirinya tidak lagi berfungsi sebagai suatu kenyataan yang dihidupi seperti yang meraka alami di kampung sebelumnya. Tetapi mereka menghidupi beberapa unsur dari budaya itu, seperti bahasa, upacara-upacara adat, perkumpulan marga, tugu leluhur yang dalam situasi sekarang ini mendapat arti dan isi yang lain. Unsur-unsur budaya yang dihubungkan dengan adat-istiadat yang lama tetapi yang telah berubah secara nyata dalam konteks yang baru berfungsi sebagai tanda-tanda yang membedakan indentitas Batak Toba itu sendiri di daerah perantauan.

Finney (dalam Togar Nainggolan, 2006: 10) menyatakan bahwa proses obyektifikasi budaya  dari unsur-unsur budaya yang diseleksi tersebut pada dasarnya bukan eksklusif untuk situasi orang Batak Toba di perantauan saja. Misalnya saja Eropa pada masa renaissans dan permainan olimpiade. Suku-suku bangsa dimana saja di dunia ini, terdorong menggunakan warisan budaya mereka secara selektif, meneruskannya dengan menyesuaikannya kepada situasi yang sekarang. Menghidupkan kembali unsur-unsur budaya telah menjadi salah satu cara untuk menunjukkan identitas dan nilai budaya untuk menghadapi tekanan globalisasi yang semakin besar.

Orang Batak Toba selalu berusaha dalam menunjukkan identitas kesukubangsaannya dengan mempertahankan adat-istiadat dan membuat suatu perkumpulan  orang Batak Toba se-kampung asal, se-marga maupun se-leluhur. Kartini Sjahrir (1983: 80) mengungkapkan bahwa perkumpulan orang Batak Toba pada awalnya berfungsi sebagai fungsi assosiasi yakni membantu para anggotanya dalam berbagai hal, terutama yang menyangkut kesulitan masalah ekonomi. Sjahrir (Ibid) juga menyatakan bahwa perkumpulan orang Batak Toba tersebut lama-kelamaan berkembang menjadi kecenderungan untuk lebih bersifat esklusif, lebih mengisolasikan dirinya dalam berbagai aktivitas adat. Hal ini selain ditandai dengan intensitas upacara-upacara adat juga disertai dengan membangun tugu leluhur untuk memperingati leluhur  bagi orang Batak Toba

This entry was posted in Skripsi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply