KODE 0808028
Guru adalah orang yang berperan penting di dalam kegiatan belajar mengajar, karena guru memegang tugas untuk mengatur dan mengemudikan bahtera kehidupan kelas. Menurut Oemar Hamalik (yang dikutip Sudirman.N, 1992:311) kelas adalah suatu kelompok orang-orang yang melaksanakan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari seorang guru. Dalam melaksanakan tugas tersebut guru berupaya sekuat tenaga agar kehidupan kelas berjalan baik, siswa dapat belajar tanpa hambatan dan dapat menguasai apa yang diajarkan guru untuk memperoleh nilai yang baik. Penggunaan strategi belajar mengajar dan metode-metode mengajar merupakan upaya dari guru guna meningkatkan prestasi belajar siswa.
Ruseffendi.ET (1991:282) mengatakan “Metode mengajar yang diterapkan dalam suatu pengajaran itu dikatakan efektif bila menghasilkan sesuatu sesuai dengan yang diterapkan. Dalam pengajaran matematika guru hendaknya mampu mengolah strategi belajar dan menerapkan metode mengajar yang tepat khususnya pada pelajaran matematika”.
Guru harus mampu memilih metode-metode yang digunakan saat mengajar agar siswa dapat cepat memahami materi matematika yang disampaikan oleh guru untuk menghasilkan nilai yang baik. Ruseffendi.ET (1991:71) mengatakan “Pengajaran matematika itu bertujuan untuk meluruskan dan mempermudah siswa belajar berhitung dan cabang-cabang matematika lainnya”. Selain pengajaran, jumlah
siswa di dalam kelas berpengaruh tehadap keefektifan belajar mengajar, dimana guru harus menyampaikan pelajaran dengan merata terhadap siswa. Tetapi pada kenyataannya dalam proses belajar mengajar, satu kelas hanya terdapat seorang guru dengan jumlah siswa ± 45 orang, gurulah yang bertanggung jawab atas
keberhasilan dan kegagalan pengajaran.
Dalam belajar matematika biasanya guru menggunakan metode yang menurutnya baik. Guru biasanya memberikan soal-soal matematika, sebagai alat untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan dan soal-soal yang harus diselesaikan langsung di dalam kelas. Hendaknya dalam memberikan soal-soal matematika, guru harus menjelaskan, membimbing dan mengarahkan penyelesaian soal-soal tersebut. Tetapi kenyataannya sangat sulit untuk dilaksanakan, karena faktor jumlah siswa sangat banyak setiap kelasnya, dengan satu guru dan ± 45 siswa sangat tidak mungkin tercapainya pemerataan dalam pemahaman untuk menyelesaikan soal-soal matematika.
Dalam mengerjakan soal-soal matematika, guru hendaknya memberikan bimbingan kepada siswa bagaimana cara menyelesaikannya. Bimbingan yang akan diberikan tidak hanya kepada siswa yang mengalami kesulitan mengerjakan soal matematika, tetapi juga kepada siswa yang tidak mengalami kesulitan. Hanya yang mengalami kesulitan harus lebih diprioritaskan. Karena jika kesalahan siswa dalam
mengerjakan soal dibiarkan, siswa akan menganggap benar jawabannya. Tetapi perlakuan ini akan memerlukan banyak waktu dikarenakan keterbatasan tenaga guru, yaitu seorang guru harus menghadapi ± 45 siswa.
Menurut WH. Burton,Dkk (1986:128) “Terlampau banyak memperhatikan anak-anak yang bodoh atau pandai saja merupakan kesalahan dari seroang guru, kesalahan tersebut karena guru tidak mengindahkan siswa yang tergolong menengah”. Sesuai dengan pendapat di atas, Sudirman.N (1992:310) mengatakan bahwa Tugas guru yang utama adalah menciptakan suasana di dalam kelas agar terjadi interaksi belajar mengajar yang dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Sebaiknya perhatian guru haruslah merata, sehingga siswa dapat termotivasi untuk lebih giat menyelesaikan soal-soal matematika dan mendapatkan nilai yang baik. Guru dapat memberikan tugas pada siswa untuk mendapatkan nilai, menurut Sudirman.N (1992:314) “Pemberian tugas yang kurang jelas dan kurang tegas akan membingungkan siswa. Siswa harus dapat memahami dengan jelas apa yang harus dilakukannya dalam menyelesaikan tugas tersebut”.
