PENGARUH PENAMBAHAN L-VALIN PADA FERMENTASI Saccharopolyspora erythraea RS?19 iBHx’ TERHADAP PRODUKSI ERITROMISIN
Tahun 2002
Peningkatan produksi eritromisin dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu : (1) optimasi pada media fermentasi yang meliputi pemberian prekursor, penambahan induser atau inhibitor enzim; (2) optimasi kondisi fermentasi, seperti perancangan fermentor, pengaturan pH, agitasi dan aerasi; dan (3) pemuliaan galur baik melalui mutasi acak maupun rekayasa genetik (Omura & Tanaka, 1986). Peningkatan produksi eritromisin telah banyak dilakukan dengan cara pertama dan kedua.
Telah dilakukan mutagenesis secara acak menggunakan mutagen NTG (N?metil-N’-nitro-N-nitrosoguanidin) dengan berbagai variasi kadar pada Sac. erythraea ATCC 11635 sehingga diperoleh mutan?mutan yang survival dan memberikan harapan sebagai mutan unggul yaitu RS?15, RS?16, RS?17, RS?18, RS?19, RS?20, RS?21, RS?22, RS?23, dan RS-24. Kesepuluh mutan tersebut mampu menghasilkan eritromisin lebih tinggi dari tipe liarnya hingga kenaikan produksinya melebihi 100 % (Jenie & Sudibyo, 1995), lihat juga Meiyanto (1995). Kemudian untuk karakterisasi dan seleksi lebih lanjut dari mutan?mutan tersebut dilakukan uji resistensi senyawa analog L?valin : ??amino?iso?butirat hidroksamat (i?BHx). Hasil uji ketahanan terhadap ??amino?iso?butirat hidroksamat (i?BHx) menunjukkan bahwa mutan RS?19 tahan sampai kadar i?BHx 0,4%; sedang tipe liarnya hanya tahan sampai kadar i?BHx 0,2 % (Jenie & Sudibyo, 1995), lihat juga Meiyanto (1995), dan untuk selanjutnya mutan tersebut diberi nama sebagai mutan Saccharopolyspora erythraea RS?19 iBHxr.
