Archive for July, 2008

MANAJEMEN STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT DI KOTA SURAKARTA

Wednesday, July 30th, 2008

MANAJEMEN STRATEGI PENGEMBANGAN  PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT DI KOTA SURAKARTA

Tahun 2008
KODE 0608026

Surakarta, yang sangat dikenal dengan sebutan Solo dengan luas wilayah 4.404,06 hektar dan berpenduduk kurang lebih 447.564 jiwa ini memiliki banyak potensi wisata. Seperti Kraton Kasunanan, Pura Mangkunegaraan, Museum Radya Pustaka, Taman Wisata Budaya Sriwedari, Wayang Orang Sriwedari, Taman hiburan dan rekreasi Sriwedari, Taman Satwa Taru Jurug, dan Taman Balaikambang, dengan adanya peluang tersebut diatas, seharusnya perkembangan pariwisata di Solo dapat berkembang lebih baik dan setara dengan tetangganya yaitu Yogyakarta, akan tetapi perkembangan pariwisata di kota Solo ini kurang berkembang dengan baik ini dapat dilihat dari tingkat kunjungan wisatawan ke kota ini di tahun 2005.

Dengan ini dapat dirumuskan permasalahannya yaitu bagaimana manajemen strategi untuk pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di kota Surakarta dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana manajemen strategi dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di kota Surakarta yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya.

Langkah awal yang dilakukan adalah menganalisa lingkungan yang meliputi lingkungan eksternal yang terdiri dari lingkungan tugas dan lingkungan sosial serta lingkungan internal yang meliputi struktur organisasi, budaya dan sumber daya organisasi, setelah melakukan analisis lingkungan, maka selanjutnya akan melakukan suatu perencanaan strategis yang meliputi : identifikasi mandat dan misi organisasi, analisa lingkungan [SWOT], identifiaksi isu-isu strategi serta evaluasi isu strategi, setelah perencanaan strategi ditetapkan maka langkah selanjutnya  di implementasikan yang merupakan keseluruhan kegiatan dan pilihan dari isu-isu strategi yang merupakan proses untuk menjalankan strategi dan kebijakan melalui pengembangan program, anggran dan prosedur, setelah diimplementasikan perlu adanya kontrol dan evaluasi untuk mengetahui apakah program tersebut telah dijalankan sesuai dengan perencanaan.

Metode Penelitian ini menggunakan format penelitian deskriptif kualitatif, sedangkan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara, observasi serta melalui dokumen, serta teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling atau sampel bertujuan, sedangkan validasi data menggunakan trianggulasi data, yaitu dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar sumber untuk mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi melalui waktu dan alat yang berbeda.
Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan di tahun 2006 sebesar 18,94% dari tahun sebelumnya, ini menunjukkan tingkat keberhasilan manajemen strategi yang diterapkan oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya.

Incoming search terms for the article:

PENGUJIAN EFEK FISHER DI INDONESIA PASCA DEREGULASI KEUANGAN

Wednesday, July 30th, 2008

PENGUJIAN EFEK FISHER DI INDONESIA PASCA DEREGULASI KEUANGAN

Tahun 2008
KODE 0608025

Efek Fisher adalah salah satu teori dalam netralitas jangka panjang yang digagas oleh ekonom klasik dalam studi ekonomika makro. Netralitas jangka panjang sendiri menyebutkan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada variabel-variabel ekonomi nominal (misalnya suku bunga nominal, uang beredar, upah) tidak berpengaruh pada variabel-variabel ekonomi riil (misalnya
tingkat pengangguran, tingkat suku bunga riil) dalam jangka panjang. King dan Watson (1997) menyebutkan tiga teori yang termasuk dalam netralitas jangka panjang yang pertama adalah netralitas uang dimana pertambahan uang beredar tidak akan berpengaruh pada output riil perekonomian. Teori lainnya menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada tingkat inflasi tidak
akan berpengaruh pada kesempatan kerja (Kurva Phillips yang vertikal) atau suku bunga riil (hubungan Fisher jangka panjang). Dalam teori selanjutnya seperti yang tercantum dalam Blanchard (2003) Efek Fisher tersebut selanjutnya didefinisikan sebagai hubungan one-for-one antara ekspektasi inflasi dan tingkat suku bunga nominal.

Adapun proses Efek Fisher seperti yang tercantum dalam Blanchard (2003) adalah sebagai berikut bermula dari perubahan pertumbuhan uang beredar. Dalam jangka pendek kenaikan pertumbuhan uang beredar akan menambah real money stock sementara suku bunga nominal dan suku bunga riil akan mengalami penurunan. Dalam jangka panjang kenaikan pertumbuhan uang beredar akan mempengaruhi ekspektasi inflasi dan akan tercermin dalam hubungan one-for-one antara ekspektasi inflasi dan suku bunga nominal sementara suku bunga riil tidak akan mengalami perubahan (cenderung konstan).

Incoming search terms for the article:

BERMAIN KARTU BILANGAN UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN MATEMATIKA

Wednesday, July 30th, 2008

BERMAIN KARTU BILANGAN UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN MATEMATIKA
(Penelitian Tindakan Kelas Pada Anak TK Pertiwi Dewi Purworejo)

Tahun 2007
KODE 0608024

Peningkatan ketrampilan berhitung dengan bermain kartu bilangan pada anak usia prasekolah sangat penting, mengingat masih banyak ditemui anak didik yang masih rendah ketrampilannya dalam berhitung/matematika. Hal ini disebabkan antara lain masih kurangnya kemampuan/pengertian dari orang tua dan peran guru dalam peningkatan ketrampilan anak dalam berhitung/ membilang.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif studi operasional/tindakan kelas dan dikenakan pada 28 anak didik Taman Kanak-kanak Dewi Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo Tahun 2006. Tindakan kelas yang dilaksanakan adalah model siklus.

Tindakan dilakukan secara bertahap, terdiri dari 4 komponen yaitu rencana, tindakan, observasi, dan refleksi. Rencana tindakan memuat berbagai cara yang dilakukan oleh guru. Tindakan kelas dilaksanakan guna meningkatkan ketrampilan matematika para peserta didik. Observasi merupakan upaya untuk merekam kegiatan yang terpadu selama kegiatan berlangsung. Refleksi merupakan kegiatan dampak dari hasil bermain kartu bilangan.

Hasil tindakan kelas menunjukkan bahwa hasil kerja pada Siklus I terdapat 5 (18%) anak yang hasilnya sudah dapat dikatakan tuntas, sedangkan yang 23 (82%) anak masih keliru dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan. Pada Siklus II terdapat 20 (71%) anak yang hasilnya sudah dapat dikatakan tuntas, sedangkan yang 8 (29%)anak masih keliru dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan. pada Siklus III terdapat 26 (93%) anak yang hasilnya sudah dapat dikatakan tuntas, sedangkan yang 2 (7%) anak masih keliru dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan.

Incoming search terms for the article: